ATHENA – Momen bersejarah dirasakan oleh Prof. Sarwono Hardjomuljadi ketika berkesempatan bertemu langsung dengan mantan Presiden Polandia, Lech Wałęsa, dalam forum internasional Global Leadership Forum yang diselenggarakan oleh International Federation of Consulting Engineers (FIDIC) di Athens, Greece.

Bagi Prof. Sarwono, pertemuan tersebut memiliki makna yang sangat personal. Lech Wałęsa merupakan salah satu tokoh yang ia kagumi sejak era 1990-an. Sosok Wałęsa dikenal dunia sebagai mantan pekerja listrik di industri konstruksi kelistrikan dan mekanikal yang kemudian menjadi pemimpin pergerakan besar di Polandia hingga akhirnya menjabat Presiden. Keberaniannya melepaskan Polandia dari pengaruh Pakta Warsawa menjadikannya tokoh penting dalam perubahan geopolitik Eropa pada masa itu.
Prof. Sarwono mengaku sangat terinspirasi oleh pesan Wałęsa yang menurutnya tetap relevan hingga saat ini, yaitu “For the bright future of the world there should be reconciliation, not by war or bloodshed.” Pesan tersebut, menurutnya, menjadi inspirasi bagi banyak orang di seluruh dunia, termasuk dirinya.
“Sejak sekitar 35 tahun lalu beliau sudah menjadi salah satu tokoh idola saya. Pesan tentang rekonsiliasi yang beliau sampaikan membangkitkan simpati dunia, termasuk saya pribadi,” ungkap Prof. Sarwono.

Ia menambahkan bahwa gagasan rekonsiliasi tersebut sejalan dengan harapannya bagi bangsa Indonesia. Menurutnya, Indonesia dapat meneladani semangat rekonsiliasi yang pernah ditunjukkan oleh tokoh-tokoh dunia seperti Lech Wałęsa dan Nelson Mandela, yakni dengan mengedepankan persamaan serta mengurangi perbedaan dalam berbagai bidang kehidupan.
Kesempatan untuk bertemu langsung dengan Wałęsa bahkan duduk bersama dalam satu panggung forum internasional menjadi pengalaman yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.
“Saya sungguh tidak pernah berpikir bisa bertemu beliau secara langsung, apalagi duduk bersama di panggung. Sebelumnya saya hanya pernah berfoto dengan patung beliau di museum lilin Madame Tussauds,” ujarnya sambil mengenang momen tersebut.
Dalam sesi Engage and Comments pada forum tersebut, Prof. Sarwono juga menyampaikan bahwa banyak peserta dari generasi muda yang belum sepenuhnya mengenal sosok Lech Wałęsa dan peran historisnya di panggung dunia.
Selain berbagi pengalaman pribadi, Prof. Sarwono juga menyoroti pentingnya penerapan nilai rekonsiliasi dalam dunia konstruksi internasional. Ia berharap pesan Wałęsa dapat diterapkan dalam penyelesaian proyek konstruksi agar dapat mencapai target bersama tanpa konflik atau sengketa.
Menurutnya, proyek konstruksi idealnya dapat diselesaikan secara tuntas baik dari sisi fisik maupun administratif tanpa menimbulkan perselisihan yang berpotensi memicu salah tafsir, termasuk bagi auditor pemerintah di negara-negara dengan sistem hukum Civil Law seperti Indonesia.
Dalam diskusi forum tersebut, Prof. Sarwono juga menyambut baik kesamaan pandangan dengan sejumlah peserta mengenai pentingnya penggunaan bahasa kontrak yang lebih sederhana dan mudah dipahami.
“Saya sangat senang karena beberapa rekan sependapat bahwa kontrak konstruksi sebaiknya menggunakan plain English language. Dengan bahasa yang lebih sederhana, potensi salah tafsir terhadap klausul kontrak dapat dikurangi, terutama bagi pihak-pihak yang tidak memiliki latar belakang pendidikan hukum,” jelasnya.
Pertemuan dengan tokoh dunia seperti Lech Wałęsa dalam forum global tersebut menjadi pengalaman berharga sekaligus pengingat bahwa semangat rekonsiliasi, dialog, dan saling memahami tetap menjadi fondasi penting dalam membangun kerja sama internasional, termasuk dalam sektor konstruksi.